AWAN DI ATAS RUMAHMU

: Vincencia Novita Andika

Menanti pesan singkatmu,
ikon sinyal berubah
menjadi buket bunga
yang sehendaknya kukirimkan
diam-diam di depan pintu
rumahmu.
.
Bukan mawar—merah, putih—atau bunga-bunga romansa lain
yang kubuketkan
tapi kuntum-kuntum awan
dari atas rumahmu.
.
Ada bulu camar tersangkut
di antara awan-awan yang
bermekaran
yang kuncupnya terus
mengikuti arah mana
matamu berada
.
zeus, apollo, atau athena
barangkali sibuk merenovasi
istana mereka
dan lantunan harpa mulai
mendengung dari matamu
yang langit
.
Dan aku tersesat
di cerah birunya.

.
—-
Malang, 19062011

Setanda, dan Waktu

 : teruntuk Disa

.

Bibir awan. Barangkali Tuhan sedikit kurang percaya

untuk menciptakan langit dalam kesendirian.

Dan lautan mulai disederhanakan

—ombak menada pelan, kelingking camar

saling berkecupan. Mungkin di sanalah

Tuhan menitipkan janjinya

yang pelan-pelan nampak merah

ketika senja mulai melamunkan

rambut yang melambaikan

harapan

dan serengkuh mimpi yang mendarat di keningmu

meresap segera ke pori-pori

seolah menanam tanda-tanda

waktu yang baru

`

dan menyimpan lelap

waktu-waktu yang lalu.

`

==

Yogyakarta, 2011

Andi Wirambara

Melintasi Kota Ini

: Dinda

pukul duabelas. tepat ketika jarum jam telak

menembus kesunyian yang menyelinap di balik

jaketku. melintasi kota ini,

malam seakan-akan milikmu

—separuh bulan merasa kalah dengan pipimu

yang salju. kios-kios yang tak lagi buka

menyiapkan kenangan dengan harga

yang tak bisa ditawar lagi.

.

selintas kota ini menambah hitunganku memikirkanmu

yang telah tak hingga. sepeti

berapa kali telah kulanggar

lampu merah,

agar ada yang menyambar lalu

menabrakku

hingga mati tanpa perlu terlihat

seperti bunuh diri

.

merenggut aku

yang telah siapkan nisanku sendiri

di bibirmu.

`
Madiun, 22062011

Andi Wirambara 

Caraku Mengingatmu

: Teruntuk Vita

                                                     .

/1/

Aku mengingat pagi

sebagai pucuk cemara

yang diayun-ayunkan luka.

                                                                            . 

Lalu kepakmu datang

sebagai burung yang

membangun sarang

                                                                             .

Mengerami cicit senyuman

menetas di senja

yang membelaiku pelan

.

/2/

Aku mengingat siang

sebagai pintu kulkas

yang tertutup

lalu terbuka

                                                                             . 

Dan kau ialah

nyala lampunya

yang menyambutku kala

mencari sebotol peluruh

dahaga

.

/3/

Aku mengingat senja

sebagai layang-layang

yang putus dan hilang

di langit barat

                                                                             .

Pun jingga matamu

penuntun jarum kompas

menunjuk arah pulang

                                                                           .

Dan waktu menyangkutkan diri

di ranting dadaku.

.

/4/

Aku mengingat malam

sebagai suaramu

                                                                         .

Semesta dengan segera

menyandarkan kepala

terlelap

di pangkuanmu.

.

   —-

Jumat, 17062011 08:33-09:31 WIB

Ruang B34 FHUB, Malang.

Andi Wirambara.

Telah terbit! SEKEPING TANDA - Kumpulan Cerpen Andi Wirambara

(Akhirnya) telah terbit, buku terbaru: “SEKEPING TANDA” - Kumpulan Cerpen karya Andi Wirambara yang berisi 14 cerita pendek yang bisa menemani waktu luang maupun agak luang juga agak-agak luang tapi ada..


Endorsement:

“Membaca SEKEPING TANDA membuat saya serasa sedang bernostalgia—kembali pada zaman-zaman SMA, kuliah, bahkan di beberapa bagian, saya merasa seolah sedang menceritakan dan diceritakan (dalam) sebuah kisah. Bara menyuguhkan cerita dengan plot yang lembut dan tenang, namun memiliki kedalaman dan selalu disertai kejutan. Gaya bahasa puitis dan romantis, serta diksi yang benar-benar diperhitungkan oleh penulis, membuat cerita yang sederhana menjadi manis dan bercita rasa, namun tetap mengalir lancar dan mudah dicerna. Ada sentuhan tradisional, lokalitas, kekinian, psikologis, kontemplasi, komedi, horor, hingga tragedi yang membuat kumpulan cerpen yang bernapaskan cinta-muda-mudi ini menjadi sesuatu yang asyik untuk dikonsumsi. Usai membaca semua kisah di dalamnya, ada kilas balik ingatan dan kesan yang timbul ketika kembali membaca masing-masing judul. Dan saya optimis, ini adalah sekeping tanda bagi kelahiran seorang penulis muda potensial: Andi Wirambara.”
(Dadan Erlangga, Cerpenis)


“Bara mencipta prosa yang membawa pembaca pada refleksi kisah-kisah nyata dan dinamika dunia di luar kesadaran manusia.”
(Yusri Fajar, Prosais dan Pengajar Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang)


“Andi Wirambara, ulet sekali menggeluti beberapa permasalahan remaja dan tidak remaja dalam buku ini. Ia memotret banyak persoalan, menyuguhnya dengan perspektif-perspektif yang seringkali tak terduga dan mencengangkan. Kreatif dan keren!”
(Irwan bajang, Penulis, Pelaku Gerakan indie)


=====
Akan segera beredar di toko-toko buku sekitar Anda! dan sudah bisa dipesan langsung melalui inbox facebook ini atau email ke baracoedaz_th3packet@yahoo .com. Harga Rp. 40.000,00 dan tentu akan ada diskon dalam rangka promosi (belum termasuk ongkos kirim). Pemesan langsung juga bakal dapat tanda tangan dari penulis (jika ingin).


Jangan ketinggalan buku yang satu ini!

Dan Mulai Mengingatmu

usai mencatat senyuman itu, hujan

mengecupkan kenang di kening dedaunan

katup jendela, ketukan pintu

buah jambu menjadi lonceng di telingaku

menggelayutkan denting tanda-tanda

dan kutipan tanya melenting di dada

 .

seperti pecinta lainnya, rindu adalah ingatan

dalam gelas. botol-botol kaca pun menepuk

pundak bias airmata. maka aku berjalan

mencari ingatan tentangmu. kaleng remuk

seperti terinjak peluh pada leliku pencarian

: kau

.                

dan memang, aku tak punya ingatan tentangmu

kubelah otakku menjadi dua: yang kiri ada tulisan,

serumus keheningan dan luka. di kanan, seolah

lukisan yang bercakap, senyum saling bersiulan

aku lupa menengok ke bawah

                         : di hati

rumpun matamu, di sana menjadi nadi

.                      

maka kupindahkan hati ke kepala

otakku ke dada

dan mulai mengingatmu.

===

Malang, 12032011

Andi Wirambara

SAAT HANDPHONEKU RINDU KAMU

maka aku hanya mampu
sembunyi di balik jempol sendiri

sinyal mulai angkuh sedari tadi
sebentar datang, sebentar pergi
kadang baru kembali
setelah aku tahu
kau sedang mandi,
mencuci boneka, atau
menonton film korea
sementara handphoneku
sedang rindu kamu, aku juga
dengan pertanyaan sama
yang kutunggu kedatangannya
“sedang apa?”
dan kujawab berbeda-beda
dengan sebuah keberadaan
aku sedang memikirkanmu
seperti kemarin, dan tak lebih
banyak dari esok
agar bulumataku tak cepat
botak
sebab katanya, rindu mampu
menanggalkan bulumata
hingga aku sempat tumbuhkan
lagi seperti bagaimana aku
merawat debar ini selalu
seperti bagaimana pemancar
-pemancar sinyal tumbuh
seperti padi yang subur
hingga ke pelosok-pelosok
dadaku
yang menyayangimu
dan di balik pesan singkat
yang kukirimkan
aku
menyayangimu

(handphoneku boleh rindu, 
namun menyayangimu
adalah bagianku).



—-
Batu, 16052011
Andi Wirambara

Fifa world cup 2010 (behind the scene)

Pagelaran pestapora piala dunia sepakbola 2010 lalu memang tak jauh berbeda dengan piala dunia sebelum-sebelumnya. Meriah, penuh kejutan, penuh sukacita, duka, lara, haru, tangis, tawa, isak, pilu, rindu, jenuh, sendu, ceria, amarah, kecewa, licik, cerdas, lelaki tampan, gadis seksi, banci genit, bendera, dan vuvuzela.

Ya, sejauh turnamen dilaksanakan, memang lancar-lancar saja. Meski tidak, untuk kejadian di balik itu. Masalah besar melanda federasi tertinggi sepakbola dunia, yaitu FIFA. Sejumlah kejutan dan masalah baik kecil maupun besar sepanjang turnamen diduga adalah rekayasa FIFA. 

“Ini fitnah! Fitnah kubur! Laknat!” geram Marco Hallei, detektif kepercayaan FIFA.

 “Tenangkan dirimu, Marco. Ada apa?”  Merry, istri sekaligus asisten Hallei menenangkan.

“Lihat ini!” Marco menyodorkan sebuah surat kabar. Merry membaca judulnya.

 “WorLd k4p dU4 rIbu cEpuYuUh pNuh ReKaYasa F1F4”

 ”Itu maksudmu, sayang? Konyol! Apa yang kau kesalkan dari koran alay ini? Ini bukan koran resmi! Aku tak pernah melihat koran ini sebelumnya.” tanya Merry heran.

“Memang alay dan meragukan, Merry. Bahkan kau tahu koran itu tidak berlogo SNI…”

 “SNI untuk helm, Marco.” Merry memotong.

 ”Ah, iya… maksudku koran ini bukan koran konsumsi publik. Tapi inilah letak permasalahan yang kita harus selesaikan! Koran ini bukan koran biasa.” Marco menjelaskan.

 “Lalu?” tanya Merry heran.

 “Entahlah, aku tidak yakin. Tapi kujelaskan nanti, kita hadiri dulu rapat oleh FIFA.” Jawab Marco.

 Marco Hallei membereskan berkas dan benda-benda yang berserakan di meja kerjanya, termasuk pula koran alay tadi. Mengambil jas krem dan topi bulatnya, bersama Merry menuju tempat rapat dengan pengurus FIFA di markas federasi sepak bola Afrika.

 

Memang, belakangan banyak sekali menyebutkan FIFA merekayasa banyak kejadian pada piala dunia kali ini. Dari keputusan menunjuk Afrika Selatan sebagai tuan rumah, bola resmi Jabulani yang liar, terompet vuvuzela yang mengganggu telinga, hingga gugurnya finalis piala dunia 2006, Italia dan Perancis di putaran pertama. Banyak media mengungkit ada sesuatu yang disembunyikan FIFA.

 

Di sisi lain, FIFA membantah hal tersebut. Karena itu, mereka ingin lepas dari fitnah tersebut dengan meminta bantuan detektif kondang Marco Hallei, seorang cucu dari menantu suami anak bungsu sepupu tiga kali kakak kandung ipar pamannya Sherlock Holmes untuk menyelidiki hal ini.

 

Sepanjang perjalanan Marco yang memang sangat peka dan teliti memperhatikan apa saja yang ia lihat. Anak-anak Afrika yang bermain bola di tanah-tanah kering, warga miskin yang berkumpul memasak daging beramai-ramai karena di rumah mereka tidak memiliki dapur, pemuda berbaju lusuh yang mencari celah agar bisa masuk stadion untuk menonton pertandingan piala dunia, kucing kawin, hingga pemandangan turis yang sedang membeli vuvuzela. Hingga tibalah Marco dan Merry di lokasi rapat setelah menumpang gerobak warga lokal yang membawa tumpukan jerami.

 

****

 

Ruang rapat di markas federasi sepakbola Afrika itu sudah dipenuhi banyak orang. Nampak orang-orang dengan jas hitam elegan berlabel FIFA lalu lalang dan diantaranya sudah duduk di kursinya masing-masing mengelilingi meja bundar yang besar. Selain orang-orang FIFA, nampak juga perwakilan dari federasi sepakbola beberapa negara. Seperti dari federasi sepakbola Spanyol, Rusia, Brazil, hingga PSSI juga diikutkan dalam rapat ini. Kelihatannya memang menjadi masalah penting.

 

“Jadi mungkin kita bisa mulai rapat kita hari ini. Saya menyampaikan sebelumnya jangan menyinggung SARA, kata-kata kasar, melakukan SPAM, atau tidur, mengupil, dan lainnya selama rapat berlangsung.” Presiden FIFA membuka rapat.

 

Sementara di ruangan sebelahnya juga berlangsung rapat dari para pemain terkemuka dunia.

“Ada yang tahu dimana Cristiano Ronaldo dan Luis Fabiano?” tanya Lionel Messi.

 

“Ah, bukannya mereka bertanding hari ini? Brazil vs Portugal.” Jawab Buffon.

 

“Benar juga, padahal aku juga ingin mereka berbagi pendapat soal problem FIFA ini. Masalahnya kita juga kena imbas. Dikira kita adalah pemeran drama FIFA. Kalau begitu bagaimana pendapatmu, Rooney?” tanya Messi pada Rooney, wakil Inggris.

 

“Kupikir kita tanya saja pada wakil tim yang tidak ikut Piala Dunia, mungkin ada pandangan bagus dari mereka. Jadi dimohon kepada saudara Taufik Hidayat, wakil Indonesia bicara.” Rooney Menyarankan.

 

“Baik. Sebelumnya maaf, saya Bambang Pamungkas, bukan Taufik Hidayat. Saran dari saya, mungkin lebih baik kita serahkan semua pada FIFA yang rapat di ruang sebelah. Bagaimana?” jelas BePe.

 

“Boleh juga, saya setuju.” Jawab Messi, diikuti anggukan kepala oleh Klose, Torres, Van Persie, dan Mike Tyson.

 

****

“Jadi begini analisis saya, saudara sekalian. Saya, detektif Marco curiga dengan koran alay ini. Pertamax, apakah mungkin koran ini bisa muncul begitu saja dan hanya dijual satu saja di tiap negara yang mengikuti piala dunia? Tentu tidak, jadi saya pikir ini adalah sebuah kode rahasia yang dikirimkan dari sebuah organisasi yang disebarkan ke anggota mereka.” Marco menjelaskan.

 

“Instruksi! sedikit menyanggah. Saya setuju soal kode rahasia itu. Tapi soal koran alay ini, saya menemukan hal yang mengejutkan. Koran ini penuh rekayasa, tulisan-tulisan tak jelas itu sebenarnya adalah script dan kode HTML. Saya berhasil menyeleksinya meski sulit memang, banyak juga yang disisipkan di sini. Jadi jelas koran itu adalah rekayasa!” Seseorang menjelaskan.

 

“Merry, siapa dia?” Bisik Marco pada Merry.

 

“Wakil dari Indonesia, pakar telematika.” Jawab Merry.

 

“Maaf pak, kode script seperti apa yang anda maksud?” tanya Deen Roft, wakil Skotlandia.

 

“Jadi begini, teknologi yang dilakukan organisasi itu sangat canggih. Dengan menyisipkan koran alay di antara koran lainnya. Maka script akan menempel dan otomatis merubah judul-judul koran lainnya dengan judul yang ada di koran itu. Karena itu banyak media yang heran judul korannya berubah meski sudah dalam bentuk cetak.” Terang sang pakar.

 

BUMMMM……….!!!

 

Mendadak salah satu sisi dinding ruang rapat meledak dan menghasilkan lubang besar. Beberapa diantara peserta rapat pingsan, dari lubang itu masuk tiga orang pemuda bertopeng kain warna merah jambu yang hanya menyisakan lubang untuk mata mereka. Di bagian dada baju mereka terdapat tulisan  “FUN”. Menyekap mulut Merry dan membawanya pergi.

 

“ MERRY!!!! FUN? Siapa kalian?” teriak Marco.

 

“Marco, tenangkan diri. Mereka adalah anggota FUN (Football Uni-Nations). Organisasi yang ingin menggulingkan FIFA.” Mendadak sekertaris FIFA menjelaskan sambil memegang pundak Marco.

 

“Oh, kupikir tidak ada yang tahu apa-apa tentang organisasi kami.”

 

Marco dan lainnya menoleh ke arah orang yang bicara. Sang Presiden FIFA! Bukan, perlahan ia menarik kulit wajahnya. Hingga memperlihatkan wajah asli orang tersebut. Pipi tembem tubuh kurus kering, rambut model emo di kepang dua.

 

“Hahahaa!! Presiden kalian aku bius di rumahnya, sekarang aku! Khryng Jyppy sudah saatnya menggulingkan FIFA dan menjadikan organisasi yang kupimpin, FUN!” seru Jyppy dengan angkuhnya.

 

“Sialan! Apa maumu hah? Kembalikan istriku! Dasar botak! Tidak diajarkankah orang tuamu bagaimana memberikan huruf vokal di nama jelekmu? Lagipula apa itu FUN? Nama kekanakan! Childish! Jelek! Katrok!” Marco sudah terlalu emosi.

 

“Sesukamu saja, aku pergi dulu! Aku sudah mencuri diam-diam berkas penting FIFA! Hahahha..!” ucap Jyppy lalu terbang dengan roket kecil di punggungnya.

 

“Segera hubungi FBI, Marco. Maaf, saya harus pulang ke negara saya untuk menuntaskan analisis tentang Ariel Peterporn, jadi tak bisa bantu.” Kata sang pakar.

 

“Peterporn? Baik, terima kasih sejauh ini. Saya akan hubungi semua untuk menangkap anggota FUN lain. Kupikir mereka pasti menyisipkan anggota mereka di federasi sepakbola tiap negara. Dan satu lagi, ini. Tolong beri saya kopian video yang anda maksud, saya belum nonton.” Balas Marco sambil menyodorkan flashdisk pada sang pakar.

 

Marco lari mengejar sambil mengikuti arah terbang Jyppy. Di langit, Jyppy terbang melewati stadion tempat berlangsungnya pertandingan Brazil vs Portugal. Sementara di lapangan. Julio Cesar sedang menendang bola, sayangnya bolanya justru tinggi melayang garis lurus ke atas dimana Jyppy sedang terbang diatasnya. Kontan, Jyppy yang tak waspada dagunya dihantam bola keras dari bawah. Jyppy terhuyung jatuh pelan ke bawah seperti layang-layang putus. Belum berhenti sampai situ, para pemain menanti di bawah mengira bola jatuh. Dan naas bagi Jyppy, belum sempat tersungkur di tanah ia langsung disambut tendangan keras dari kaki kanan Cristiano Ronaldo tepat di perut. Jyppy terpental ke tiang gawang dengan kerasnya, dan jatuh ke tanah. Sebagai penutup, Jyppy terinjak-injak oleh pemain yang sebelumnya berebutan bola di lapangan.

 

…..

 

“Benarkah? Jyppy semaput di lapangan? Kabar bagus! Aku juga baru dapat kabar dari PSSI, mereka menangkap satu penyusup dari FUN di Indonesia. Setelah mereka mengenakan jaket merah-putih, anggota itu justru pakai jaket pink dan di keningnya ada stempel FUN. Kabari federasi sepakbola negara lain!” ujar Marco setelah panitia pertandingan Brazil vs Portugal menelponnya. Kabarnya pula, pertandingan tersebut hanya ditunda 2 menit.

 

“Sekarang tinggal istriku…” gumam Marco.

 

****

 

Terik menyapu titik-titik kerikil yang berpeluh, meski udara dingin turut membelainya. Siang hari di musim dingin Afrika Selatan tidak menggoyahkan Marco untuk mencari dimana istrinya disekap.

 

“tumpa se ae….yumos ko dae…. kuch kuch hota hai~~”

 

Handphone Marco berbunyi, rupanya ada pesan masuk: “KAMI MENEMUKAN TEMPAT PERSEMBUNYIAN ANGGOTA FUN, ADA DI KOLONG JEMBATAN ARAH UTARA STADION SOCCER CITY DI JOHANESBURG. SALAM OLAHRAGA! By. CIA”

 

Senyum Marco mengembang. Satu lagi kabar dari CIA yang membantunya. Tanpa ragu ia ke lokasi yang dimaksud.

 

Setibanya di sana, ia disambut oleh sekitar tujuh pemuda kekar yang memakai bandana warna merah muda bertuliskan “FUN”. Sementara di salah satu tiang jembatan, Merry tengah diikat.

 

“Lepaskan Merry..” Marco mulai bicara, sementara seluruh pemuda itu bergerak pelan ke arah Marco.

 

“Jangan dekat-dekat! Aku bawa pistol!” Marco waspada, sementara pemuda itu makin mendekat.

 

PLAKK!!

 

Salah satu dari mereka dengan cepat menampar tangan Marco yang memegang pistol. Marco panik, sementara pemuda yang paling besar mencengkram kuat pundak Marco.

 

“Apa-apaan kau! Lepaskan!” Marco berontak.

 

“Tenang bro, tadi FBI sudah ke sini dan memberi kabar kalau bos kami sudah takluk. Kami ingin berterima kasih saja.” Ujar pemuda kekar itu dengan suara yang berat.

 

“Maksudmu?” tanya Marco heran.

 

“Begini sebenarnya….” pemuda itu dan seluruh pemuda lainnya melepas kacamata hitam mereka, menarik nafas, lalu bicara.

 

“Gini lo kang….kami-kami ini sebenernya dari FUG boo… Federation Uni-Gender.. kami biasanya nangkring di stadion-stadion tempatnye piala dunia. Jujur deh kami-kami suenenng yang ganteng-ganteng dateng.. ada Messi.. Ronaldo.. Higuain.. hadu.. hadu… cuman ye.. si Jyppy belagu itu janjiin, kalo bantu dia, kami-kami bakal punya kuasa atas stadion. Lumayan kan kami masuk ke ruang ganti buat nyubitin pipi Buffon pas ganti baju. Sekseh boo.. makanya maaf ya istri situ kami tawan. Kami udah mau bebasin kok, cuman situ dateng duluan. Kami bisa bebas.. dadah..!! tengkyu..” pemuda itu menjelaskan dengan gaya banci, tangan melambai-lambai lalu pergi.

 

Marco menghampiri Merry dan mereka saling berpeluk haru. Sementara para agen dan orang-orang FIFA sudah berdiri mengelilingi mereka sambil bertepuk tangan. Diantara mereka ada yang menangis haru, kejadian yang begitu mengharukan.

 

Setelah kejadian tersebut nama FIFA pun baik kembali. Publik kembali menyalahkan Domenech dan Capello atas gugurnya Perancis dan Italia yang mereka pimpin. Jadwal tetap berjalan lancar. Sementara hampir seluruh publik dunia tidak ada yang tahu, tentang kejadian di balik euforia piala dunia. Kisah yang bahkan tak sempat tercium media massa.

NALIA

Jika diibaratkan olimpiade, maka dalam rangka mencapai atau mendapatkan hati gadis pujaan, disediakanlah empat medali untuk laki-laki.

Ya, empat, bukan tiga. Medali yang bernilai paling tinggi tentu saja emas. Medali ini hanya disematkan untuk laki-laki yang mendapat hati pujaannya tanpa perlu menyatakan cinta, justru pujaannyalah yang “menembaknya” lebih dulu. Wajar jika disebut pencapaian tertinggi. Lalu ada medali perak, laki-laki yang dikalungi medali ini pantaslah berbangga dan berpuas menikmati debar-debar hatinya, sebab medali ini menandai diterimanya ungkapan hati. Medali ketiga mulai agak pilu, peraih perunggu. Diberikan untuk mereka yang pernyataan cintanya dijawab dengan diam—sehari, seminggu, sebulan, berbulan-bulan—tanpa jawaban pasti. Dan tingkat terbawah dengan hasil paling tragis, ditolak (entah mentah-mentah atau secara halus dan lembut), berhak mendapat medali yang paling miris. Medali aspal!

Andai ruang kejujuranku digeledah, akan kautemui koleksi medaliku. Sebuah medali emas, dua buah perak, dan satu medali perunggu. Medali aspal? Ah, mungkin ini memalukan, namun faktalah yang bicara tentang empat medali paling berdebu itu juga masuk dalam daftar koleksiku. Eit! Jangan berprasangka aku tak laku dulu, empat medali terkutuk itu kuperoleh dari gadis yang sama: Nalia.

Tak ada perempuan paling membingungkan selain Nalia. Entah berapa deret laki-laki yang dilempari medali aspal ke wajahnya—termasuk aku. Tak ada perbedaan berarti antara Nalia dengan perempuan manis lain yang berseliweran di keseharian dan pergaulanku. Entah sikapnya yang mudah akrab atau apalah, yang pasti aku jatuh cinta sunguh-sungguh padanya! Ya, cinta! Bukan jatuh suka, terlebih jatuh naksir. Maka dengan bodohnya aku rela ia banting hatiku. Berkali-kali.

Sekarang aku berencana melakukan kebodohanku yang berikutnya, yaitu mengutarakan perasaanku lagi, menyatakan cinta dan berharap Nalia menerimanya. Meski pedih juga jika kujenguk-jenguk lagi empat medali aspalku yang dulu. Apakah Nalia akan menolakku lagi dan memberikanku medali aspal kelima sepanjang aku menjalani kisah cinta? Mungkin sudah cukup jumlah aspal itu menutupi wajahku yang sudah terlampau malu, lalu aku berbaring di jalan dan terlindas truk yang mengiraku bagian dari aspal jalan, lalu aku mati dengan tragis, kemudian arwahku gentayangan. Ah, bagaimana jika saat aku menggentayanginya, ia tengah berkencan, jalan-jalan, atau makan berdua dengan lelaki yang berhasil mendapatkan hatinya? Bagaimana jika saat itu aku cemburu melihatnya? Rasanya aku mau mati saja, bunuh diri!

Eh, apa orang yang sudah jadi hantu, boleh mati lagi? Boleh bunuh diri?

***

“Jadi..” ucapku gugup.

“Jadi apa?”

“Aku suka kamu, lagi-lagi aku suka kamu. Jadi..”

Air muka Nalia makin datar dan sayu. Kupikir ia tak perlu terkejut karena ini sudah kelima kalinya aku mengungkapkan ini padanya. Perlahan aku mencium bau yang tak mengenakkan. Bau aspal. Suatu kebetulan yang hebat, ada bau aspal sungguhan dari jalanan di depan warung bakso tempat kami berada. Ada proyek perbaikan jalan untuk  memuluskan kembali jalan yang sebelumnya retak-retak sedikit. Entah pertanda atau semacam ejekan buatku, apakah hari ini aku pulang dengan medali aspal lagi? Aku terus membaca wajah Nalia. Ah, susah! Terlalu cantik! Bisa gila terpana aku kalau begini. Kulanjutkan saja.

“Jadi…an sama a..”

“Stop sampai situ, Yanda. Jangan lebih dari itu.”

Seperti baru saja Tim Densus 88 mendatangi tempat bakso ini dan langsung menodongkan senjatanya padaku. Dadaku berdetak sungguh hebat, semakin cepat dan semakin ringan tak terasa. Mungkin aku sudah tak punya jantung lagi. Napas yang kutarik-hembus-tarik-hembus begitu berat. Kelopak mataku berkedip dengan berat. Mulutku terangkat, bergetar, bergetir dan nyawaku serasa terkuncir lalu keluar pelan-pelan lewat hidung, bertukar pelan-pelan dengan bau aspal. Aspal, aspal, dan aspal! Aku menyesal membuat teori medali ini.

Delapan bulan lalu, acara Festival Seni dan Budaya di Gedung Tambun Bungai menjadi awal pertemuanku dengan Nalia. Aku mengisi acara drama. Di ruang ganti, sekelompok gadis penari dengan pakaian adat khas Kalimantan Tengah bersiap tampil. Salah satunya sungguh menarik perhatianku—mungkin juga laki-laki lain di sana. Mataku tak lepas dan sesekali ia juga melirikku.

“Mana menurutmu paling cantik, Yan?” tanya Haris, partner dramaku sesaat setelah para penari meninggalkan ruang ganti dan naik ke atas panggung.

“Gadis-gadis tadi?” Haris mengangguk.

“Hm.. menurutku yang paling depan.”

“Rambut panjang itu?” gantian aku yang mengangguk.

“Bagus juga matamu, Yan.”

“Kamu kenal dia?”

“Iya, namanya Nalia..” Ternyata namanya Nalia! Setelah ini, aku akan mengajaknya berkenalan lalu mencoba mendekatinya, “..dia pacarku,” sambung Haris. Musnah harapku.

***

Pada akhirnya, aku berkenalan dengan Nalia—dikenalkan oleh Haris, kekasihnya sendiri. Aku membiarkan dia memanggilku dengan nama panggilan, tanpa embel-embel ‘Kak’ di depannya. Lucu, baru permulaan langsung diberi cobaan. Lucu kuadrat, dua hari setelah perkenalan itu, Haris dan Nalia mengakhiri hubungan mereka—diproklamirkan melalui status dan pemberitahuan facebook. Memang, pertengkaran mereka juga terasa sampai ke situs jejaring sosial tersebut seolah mereka tidak ada masalah jika diketahui banyak orang.

“Cukup, kunyatakan berakhir! Semoga bahagia, dadah!”

Status yang ditulis Nalia inilah penanda kepastian berpisahnya mereka. Dalam sekejap, beruntun muncul komentar-komentar yang didominasi oleh laki-laki berlagak menghibur Nalia. Aku mengambil handphoneku, mengirimkan SMS kepada Nalia. “Sekarang, boleh aku maju?”

Tak perlu waktu lama untuk dekat dengan Nalia. Hanya untuk merengkuh hatinya, tak secepat itu. Selang dua bulan aku mencoba menyatakan perasaanku untuk pertama kali padanya.

“Maaf, Yan. Aku lagi nggak mau pacaran.” Itu adalah penolakan perdana untukku. Sungguh, tak ada yang lebih menggelisahkan dari ini. Akhirnya aku berkesimpulan, kalau mungkin ia masih trauma dengan Haris.

“Aku mau serius belajar dulu,” sekali lagi aku luruh, dua bulan setelah penolakan pertama. Ia memang masih SMA waktu itu dan akan ujian akhir. Aku (coba) maklum.

“Kita berteman aja ya, Yanda,” kalimat untuk kali ketiga medali aspal tergantung di leherku sebulan setelah medali kedua kuraih dan sehari setelah Nalia selesai ujian.

“Jangan sekarang.” Jujur, alasan ini paling abstrak. Tanpa kelanjutan dan aku terlalu hancur untuk menanyakan lanjutannya.

Dan kini, di warung bakso ini, Nalia menolakku lagi. Sungguh, aku iri dengan Haris dan penasaran bagaimana ia bisa mendapat hati Nalia. Aku memalingkan pandangan dari mata Nalia yang sayu.

“Nalia, mau kutemani pulang?”

Nalia menggeleng.

Hujan mendadak turun.

***

Palangka Raya. Memang wajar jika kota ini dikandidatkan sebagai calon ibukota negara. Daerah yang masih dilintasi garis khatulistiwa dan bercuaca cukup panas ini sebenarnya punya teritorial yang luas. Hanya jarangnya bangunan dan populasi penduduk yang sedikit membuatnya tidak terlalu tampak sebagai sebuah ibukota provinsi, dibanding kebanyakan kota lain di luar Jawa. Namun tak bisa diremehkan soal kotanya yang ditata rapi dan matang. Jalan yang lebar, bersih, serta adanya bundaran di persimpangan jalan membuat kota ini minim potensi untuk macet. Suasana natural begitu kental, masih banyak ditemui hutan dan daerah hijau, begitupun lahan kosong yang hanya dihuni ilalang. Sayangnya, kadang terjadi pembakaran lahan—kebanyakan saat kemarau—hingga musim asap terjadi dan mengganggu aktivitas serta kesehatan warga. Jika sudah begitu, senyumlah yang terkembang saat hujan turun.

Aku dan Nalia masih duduk berhadapan, tanpa bicara. Aku beberapa kali memalingkan wajahku saat Nalia menatap ke arahku, mungkin juga Nalia tengah membaca raut paling kusut dari pernyataanku yang ia potong tadi.

“Yanda,” panggilnya lembut seraya tersenyum. Aku hanya membalas senyumnya. Sungguh, aku tak bisa berkata.

“Hujan gini jangan cemberut dong, aku suka lho dengar suara hujan. Apalagi kalau di rumah, aku suka nengok ke jalan dari jendela,” Nalia mencoba menghiburku atau lebih tepatnya mengalihkan obrolan. Aku masih diam sambil mengikuti Nalia memandangi jalanan di luar. Memandangi hujan yang turun. Ingin rasanya aku berlari ke arah itu, menyatukan hujan dengan airmataku yang turun, ingusku yang juga turun, dan kecewa yang ikut turun. Mungkin setelah ini, berat badanku akan ikut turun.

“Kamu tak suka hujan, Yan?” Tanya Nalia setelah sekian tanya darinya kujawab dengan diam. Aku suka hujan, Nalia. Suka! Tapi sekarang apa yang harus kusampaikan padamu? Mulutku masih tertutup rapat.

Hujan turun makin deras tanpa ampun menghujam genting. Kami diam, Nalia sesekali menggigiti jari lentiknya.

“Yan, foto rame-rame kita di Tangkiling kemarin sama kamu ya? Lihat dong..” Nalia memecah hening kami lagi. Kukeluarkan laptop kecilku kemudian menyalakannya.

“Ini. Tinggal tunggu nyala aja,” akhirnya aku bisa bicara, sambil menyodorkan laptopku pada Nalia.

“Eh, kok?” Nampak keheranan dari wajah Nalia.

“Kenapa, Nalia?” Nalia tersenyum seperti menahan tawanya. Ia memutar laptop dan memperlihatkan layarnya ke hadapanku. Nampak foto Nalia mengenakan kaos biru yang sedang duduk dan tersenyum manis di sebuah bangku dari batang pohon. Habislah aku.

“Wah, aku jadi wallpaper laptopmu. Jadi tersanjung,” ucapnya antara canda dan sindiran.

Aku salah tingkah, mungkin wajahku sudah memerah.

“Boleh pinjem HP kamu, nggak? Pasti wallpapernyabagus.”

Aku bungkam.

***

Sungguh, aku ingin segera pergi dari tempat ini. Sudah terlampau banyak kebodohan yang kutunjukkan. Bahkan setelah aku resmi mendapat medali aspalku yang kelima. Kupikir cukup sudah, seharusnya aku bersyukur Nalia tidak menjauhiku.

Nalia masih sibuk dengan laptopku, sesekali tersenyum sambil melirik ke arahku, sesekali kedua alisnya nyaris bertemu memperhatikan foto-foto di sana. Aku memutar-mutar sedotan di gelas es jerukku yang tersisa seperempatnya. Denting es batu dan gelas terdengar meski kalah dengan deru hujan yang mulai memperlambat temponya, menunjukkan tanda-tanda reda.

“Foto-fotoku yang sendirian di mana, Yan?”

“Di folder yang satunya, kupisah sama yang lain.”

“Wah, sampai dapat tempat eksklusif.”

“Kamu di mana-mana selalu eksklusif, di hatiku juga,” godaku sambil menjulurkan sedikit lidahku.

“Mulai deh..”

“Tidak keberatan, kan?”

“Nggak kok, Yan..”

Sesaat, hujan seperti semakin melambat, atau tepatnya nampak seperti mengerem mendadak. Langit masih gelap dan wangi hujan yang khas naik mulai ke udara.

“Nalia, hujannya sudah reda, tuh.”

Nalia mengangkat wajahnya yang terfokus ke monitor, lalu menoleh ke luar. Mendadak datang lagi suara air yang beradu dengan daun-daun. Semakin kencang dan kian kencang. Rupanya hujan tadi hanya jeda sebentar lalu melanjutkan serangan rinainya jilid kedua.

“Yah, hujan lagi.”

“Nggak bisa ditebak. Persis kamu, Nalia.”

“Haha.. apanya yang nggak bisa ditebak?”

Entah kenapa aku merasa tak perlu menjawab pertanyaannya yang satu ini. Jujur saja, tiba-tiba aku merasa kesulitan menjawab pertanyaannya.

“Yanda jadi pendiam, ya.”

Entah kenapa aku merasa seperti orang bodoh dan payah. Lagi-lagi aku menjawabnya dengan senyum kebingungan.

“Aku suka banget lihat cowok kebingungan.”

Hah? Entah apa maksudnya.

“Oh iya, tawaran temenin pulang tadi masih berlaku, nggak?” Sontak aku terkejut, mengangguk. Sangat cepat.

“Kalau tawaran jadi pacar, masih?”

Kali ini aku ternganga, tersenyum heran. Leluconmu terlalu gila untuk hatiku, Nalia.

“Kok nggak jawab?”

Aku harus menanggapi apa? Kau mengerjaiku?

“Atau aku yang ngomong. Yanda, mau jadi pacarku, nggak? Aku kecewa lho kalau ditolak. Aku nggak mau ekspresiku sama dengan ekspresimu yang sudah lima kali kutolak.”

Aku menggelengkan kepala, heran tak percaya. Mulutku megap-megap seperti ikan di aquarium. Entah aku harus menanggapi apa. Kulihat Nalia memandangku seraya memegang sisi laptopku dengan tangannya. Lalu mendadak memutarnya ke arahku.

“Taraaa…!!!”

Di monitor, nampak foto kami berdua yang seingatku diambil saat kami di Bukit Tangkiling beramai-ramai. Hanya yang nampak kali ini, foto telah diberi hiasan bingkai. Rupanya sejak tadi Nalia mengedit foto kami. Satu lagi, yang membuat mulutku kian lebar membuka.

“NALIA & YANDA” Tulisan yang diterakan di sebuah gambar balon kecil berbentuk hati di pojok bawah foto. Sungguh, sampai kini aku tak mengerti. Tak mengerti.

“Yanda, jangan tolak aku, ya?” Nalia melemparkan senyum lembut padaku. Senyum yang tulus.

Hei! Bisakah kau lihat medali emas bersinar-sinar di dadaku sekarang?

 

 

Sekedar Bingkisan Sederhana Tentang Kembang Api, Januari, dan Kadal

: Salvia Astriningsih

/1/

Januari adalah kembang api, dan jarimu adalah nyala lilin

hari ini ulang tahunmu, mendadak aku teringat

lonjong telur, air, dan bungkusan tepung

pun senyuman terencana terlontar manis

seperti kembang api yang dilesat

di malam suatu awal

saat sekian jejal harapan dirapal

tapi aku tak mau melontarkan tepung padamu

terlebih telur—yang mungkin siap menetas

seperti doa yang kau lepas

di langit, menguap selayak embun di pucuk

redup lilin

/2/

waktu seperti kuncup bunga di ujung jemari

yang sesekali dapat kau intip, bagaimana

kelak ia mekar

atau bisa kaubuka sendiri kelopaknya

satu-satu

seperti waktu, seolah-olah menawarkanmu

ejaan mimpi, dimulai

dari januari

/3/

“carikan aku kadal”

begitu katamu saat kutanya, hendak kuberi apa

sontak aku panik dan perutku

seperti digelitik

ternyata ada kadal di perutku

yang lalu kutinju-tinju

agar ia takut, dan melompat keluar

lewat pinggiran bolamataku

kadal tadi malah melompat ke hati

yang sudah penuh oleh puisi-puisi

tentang senyum, hujan dan senja

pula rindu yang begitu rimba

kadal tadi melompat keluar—entah lewat mana

kutangkap saja, seekor kadal dengan pita di lehernya

“Selamat ulang tahun, Via! ini hadiahmu.”

matamu menyipit, dengan bibir yang sedikit

kau majukan. menatap kadal yang sesekali lidahnya

menjulur keluar

“Kadalnya ngejek aku, Mas.”

Ha?

====

Malang, 12 Januari 2011 —ultah Via

Andi Wirambara